Kamis, 30 Oktober 2014

MEA 2015, KITA JADI TERDEPAN ATAU TERTINGGAL?



Kamis, 30 Oktober 2014 | 17:13 WIB
Dalam setiap bidang sudah barang tentu ada suatu permasalahan, tak luput dari bidang pendidikan yang juga memiliki permasalahan pendidikan. Lalu apa yang menjadi masalah bagi pendidikan di Indonesia? Di sini kita akan membahas salah satu masalah yang ada di Indonesia tersebut yaitu tantangan kecenderungan Global.
Pada abad penuh dengan tantangan ini, dunia ditandai dengan beberapa perubahan penting dalam berbagai bidang kehidupan. Oke, perubahan yang terjadi disini merupakan perubahan menuju kemajuan dan perkembangan zaman. Dalam era Globalisasi ini bangsa-bangsa di seluruh penjuru dunia mengadakan suatu kerja sama dengan negara-negara yang memiliki suatu hal yang sama. Indonesia tergabung dalam satu wadah dengan negara-negara tetangga dalam ASEAN (Association of South East Asian Nation) dalam meningkatkan kerja sama untuk meningkatktan perekonomian negara.
Di tahun 2014 ini kita seluruh warga Indonesia dalam berbagai bidang di tuntut untuk siap dalam menyongsong adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Di dunia pendidikan diperlukan adanya garapan yang serius untuk mempersiapkan diri menghadapi MEA 2015 agar tidak kalah saing dengan negara tetangga.
Namun, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 itu apa sih?
Nah, mungkin masih banyak yang belum tahu apa itu Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) merupakan kesepakatan dari Negara-negara ASEAN untuk membentuk sebuah kawasan perdagangan bebas yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekonomi kawasan ASEAN di dunia yang rencananya akan dimulai pada akhir 2015 mendatang.

Adanya MEA, kita jadi terdepan apa tertinggal?
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan mengenai MEA namun kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA sudah tidak perlu dipertanyaan lagi, karena kita memang harus siap menghadapi hal tersebut. Sayangnya masih banyak harus dibenahi dalam berbagai sektor yang ada di Indonesia, sektor pendidikan adalah sektor utama dalam peningkatan sumber daya manusia sekaligus merupakan eskalator sosial-ekonomi sebuah bangsa.
Jika kita bandingkan dengan Negara maju di ASEAN seperti Singapura, pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal. Mulai dari karut-marutnya sistem pendidikan, penerapan kurikulum yang masih baru, bahkan lulusan yang tidak tepat sasaran. Hal tersebut menjadi persoalan rumit, mengingat ketatnya persaingan yang akan terjadi.
Berdasarkan survei Program for International Student Assesment (PISA), kualitas pendidikan Indonesia berada pada peringkat ke-64 dunia. PISA mengkaji performa kemampuan matematika, membaca, dan ilmu alam pelajar Indonesia yang memperoleh nilai rata-rata 384. Nilai ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan Singapura yang menempati peringkat kedua dunia dengan nilai rata-rata 555.
Dalam pendidikan formal, banyak warga Indonesia yang masih banyak yang belum berpendidikan tinggi. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2013 menyebutkan bahwa postur tenaga kerja Indonesia adalah pekerja lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah berjumlah sebesar 52 juta orang (46,93%) atau hampir setengah dari total pekerja sebesar 110,8 juta orang. Kemudian pekerja lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 20,5 juta orang (18,5%), pekerja lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 17,84 juta orang (16,1%). Jumlah paling rendah ditemui pada pekerja lulusan universitas dengan jumlah 7,57 juta orang (6,83%) dan lulusan diploma sejumlah 2,92 juta orang (2,63%). 
Sebagai perbandingan, menurut data Department of Statistics Malaysia (DOSM) pada tahun 2012, jumlah tenaga kerja Malaysia adalah 13,12 juta orang dengan postur sebesar 7,32 juta orang (55,79%) adalah lulusan sekolah menengah dan sejumlah 3,19 juta orang (24,37%) adalah lulusan universitas dan diploma. Negara ASEAN lainnya seperti Singapura, menurut data World Bank pada tahun 2012 memiliki jumlah tenaga kerja sebesar 3,22 juta orang dengan pekerja lulusan sekolah menengah sebesar 49,9% dan lulusan universitas dan diploma sebesar 29,4%. Dari data tersebut kita dapat melihat bahwa hampir dari separuh tenaga kerja Indonesia (46,93%) adalah low skilled labour lulusan SD yang secara kontras dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia yang sekitar 80% tenaga kerjanya adalah lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi. 
Dengan beberapa perbandingan pendidikan Indonesia masih tertinggal dengan beberapa negara di tingkat ASEAN. Indonesia perlu memperbaiki system pendidikan terlebih dahulu dengan adanya reformasi kebijakan. Dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, peningkatan kualifikasi tenaga kerja dengan minimal lulusan sekolah menengah.
Kedua, pemberantasan korupsi agar anggaran dana pendidikan dapat tersalurkan kepada yang memerlukan.
Ketiga, perubahan kebijakan pendidikan dengan memberi akses gratis kepada rakyat untuk masuk perguruan tinggi negeri.
Keempat, peningkatan pemberian beasiswa kepada mahasiswa yang dikirim keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan dalam mencapai penambahan jumpalh doctor dan professor.

Atas segala hal yang terjadi, Indonesia akan dapat menaklukan MEA 2015 dengan memperbaiki pendidikan di Indonesia agar warga Indonesia dapat memiliki kualitas yang tinggi dan tenaga kerja yang berkualitas untuk bersaing di lingkup manca. Dengan pendidikan dan taraf hidup masyarakat yang tinggi maka Indonesia akan dapat semakin terdepan utamanya di ASEAN dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA 2015).
Daftar Pustaka
Munib,Achmad.2010.Pengantar Ilmu Pendidikan.Semarang:Universitas Negeri Semarang Press.
Selasar. 2014. Pendidikan dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Di unduh dari www.selasar.com/politik/pendidikan-dan-masyarakat-ekonomi-asean
Kompasiana. 2014. Sudah Siapkah Pendidikan Indonesia Menghadapi MEA. Di unduh dari http://edukasi.kompasiana.com/2014/10/04/sudah-siapkah-pendidikan-indonesia-menghadapi-mea-678278.html
Penulis :
Erlita Septiani, mahasiswa S1 bidang Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar